Jumat, 14 Desember 2012

Berkas Cinta yang Kandas

“Rin!,  benarkah kini aku  hidup yang kedua kali ?” tanya Stefani pada Ririn, yang menggoreskan sebuah penasaran di hati Ririn.

“Ah,  apa apaan sih, Fan !” jawab Ririn dengan ketus.

“Kenapa ramalan datangnya kiamat enggak benar, kenapa lewat begitu saja!”. Kembali Stefani melontarkan keluh hatinya hingga semua teman yang lagi gabungpun melempar sorot mata tajam mereka pada Stefani, yang  kini malah kelihatan cengar cengir  wajahnya.

“Kok lo ngomong gitu sih Fan !” jawab Ririn.

“Lo lupa !, kemarin kan tanggal 12 Desember 2012. Seharusnya kita kita ini udah lenyap dari muka bumi dihempas kiamat, iya kan ?”

Maksud lo hari kemarin seharusnya terjadi kiamat dan kita semua mampus ?. Kiamat itu urusan Tuhan !”, bantah Ririn, yang disambut dengan tawa lepas Stefani, sedangkan Ririn terlihat berkerut dahinya. Lantaran sokib gaulnya itu, hari ini entah mengapa nglantur nggak ada ujung pangkalnya. Nggak biasa cewek ABG ini nglantur seperti ini, padahal sudah lama  mereka gabung. Sedangkan Lily dan Sebastian hanya saling melempar pandang,  mereka juga   heran mendengar joke Stefani itu  yang nggak seperti biasanya.

“Lo lagi ngebayangin Frans kan !, ah dasar lo anak mama, ditinggal Frans aja nggak bisa terbang bebas kaya merpati !. Enjoing piss, sobatku !” pinta Lily.

Stefani mulai menampakan senyum yang kecut, dengan rona muka memerah. Ucapan Lily tadi terasa seperti petir ribuan volt yang mengaliran arus listrik di sekujur tubuhnya. “Frans, oh iya Frans, mengapa aku seperti kehilangan sendi tulangku, bila aku mendengar nama itu disebut !”bisik hati Stefani mula mengagayuti dinding jantugnya. Bisik hati itupun terpancar pada sorot mata Stefani yang kosong.

“Piss, so sory aku ya Fan !” pinta Lily yang merasa advisnya tadi malah membuat sokib lamanya menjadi lebay dan tersudut.

“Never mind, Lily !, is OK!” kilah  Stefani yang masih belum mampu menyembunyikan wajahya yang kusam. Beruntung mereka semua biasa peduli bersama,  curhat bersama bahkan seringkali mereka bersama mengorbankan apa yang mampu mereka lakukan demi sokib mereka, maka getaran halus yang  tertoreh di hati Stefani  langsung bisa dibaca mereka bersama.

“Udah deh Fan, lo kan udah gede !, klo cowok seperti Frans meninggalkan lo, kan udah biasa. Ada apa sih, Fan !, piss deh !” Sebastian kelihatan seperti guru BP Stefani yang memberi bimbingan pada dia yang bengal. Karena bagi Sebastian, yang juga sokib kental Frans nggak nyangka, bila Stefani saat ini belum bisa melupakan Frans. Bukankah cinta mereka hanya cinta ingusan, yang sebatas hanya mengenal rindu dan saling mengagumi. Entah lantaran apa Stefani begitu  terhipnotis dengan sihir cinta Frans.

“Nggak gitu Yan, kebetulan ini kan menjelang datangnya tahun baru “ Stefani perlahan mulai mengajak sokib sokibnya untuk memberi solusi.

“Kan malah kita bisa enjoy , Fan “ pinta Ririn.

“Nanti klo saatnya aku bisa enjoy, aku akan ajak kalian semua refreshing, biar aku traktir makan di mana lo semua  sukai“  jawab Stefani.

“Kenapa  nggak sekarang aja,  Fan !. Mumpung masih sore,  habis itu kita ngumpul lagi di rumahmu, OK Fan !” pinta Lily dan Sebastian.

“So sorry, friend !, aku malah membawa kalian semua ke masalahku, piss aku belum bisa merayakan malam tahun baru ini, bagiku malam tahun baru ini sama saja aku memunguti memoriku saat bersama Frans “ nampaknya Stefani serius dengan masalah ini, terlihat dari sorot matanya yang layu. Maka tumben cewek ini nggak dandan barang sedikitpun saat sokib sokibnya ngumpul bareng di beranda rumahnya. Biasanya Stefani selalu modis, meski hanya dengan T shrt dan celana panjang.

***

Memang satu minggu sebelum datangnya malam tahun baru, Stefani hanya tersudut dengan galau  yang mengganjal di hatinya.  Memory yang dia rajut bersama Frans di tahun baru satu tahun silam begitu kelamnya. Meski Stefani hanya cewek ABG, namun karena asuhan ortunya yang penuh kasih sayang membuat dirinya mampu bersikap seperti wanita dewasa. Memang Stefani mengagumi Frans Daniel melebihi cowok lainya yang juga ganteng dan gaul seperti Frans. Hingga akhirnya dinding hati Stefani runtuh dihempas cumbu rayu Frans.

Namun Stefani sama sekali tidak mau menerima sikap Frans yang liar, seperti burung terbang kemana yang dia sukai. Stefani dalam hal ini selalu memberi advis pada Frans agar cowok pujaanya mau meninggalkan kebiasaan norak, seperti  suka mabuk,  narkoba bahkan sering pula berjudi. Dengan penuh kelembutan dan kasih sayang yang tulus, Stefani layaknya seorang kakak yang lembut, berusaha membimbing Frans untuk meninggalkan kebiasaan buruknya itu.

Stefani berusaha tegar menghadapi sikap Frans yang tak gila dan liar. Seribu janji dari Frans diterimanya dengan hati yang lapang, meski dia melihat sendiri Frans seenaknya melanggar janji yang diucapkanya  sendiri. Sudah berkali kali hati kecilnya selalu menyuruhnya untuk meninggalkan cowok idolanya itu, yang hanya bisa bersikap ego dan tidak pernah bisa menghargai Stefani. Namun perasaan iba terhadap Frans selalu menghalangi dia untuk memutuskanya. Karena Stefani tahu, Frans hanyalah korban ketidakharmonsan mama dan papanya.

Barangkali saja arti kehadiran seseorang akan lebih berarti lagi bila dia telah meninggalkan kita. Filosofi itu semula dipegang kukuh oleh Stefani, hingga dia akhirnya bertekad bulat meninggalkan Frans dan merencanakan maksudnya itu persis di malam tahun baru 2012.  Stefani berharap Frans sangat mengharapkan kehadiran dia kembali dan mampu menghargai dirinya, setelah Stefani meninggalkannya.

Stefani berharap kehadiran Frans di malam itu bukan sebagai Frans yang norak, tetapi hadir sebagai Frans yang dewasa dan mampu menghargai dirinya. Sehingga Stefani layaknya seorang putri raja yang menunggu pangeran cintanya. Di saat itulah sebuah janji dari Stefani akan dia ucapkan, sebuah janji tentang cinta mereka yang hanya tuhan yang mampu memisahkan mereka.

Namun apa yang terjadi justru semakin membulatkan tekad Stefani untuk meninggalkan Frans. Frans malah merayu Stefani agar dia mau gabung bareng dengan Frans melewati malam tahun baru dengan narkoba. Stefani dengan hati yang bergetar kuat akhirnya memutuskan Frans,  yang terlihat sama sekali tidak menampakan respon galau atau penyesalan.  Franspun telah lama memperlakukan Stefani seperti ABG murahan, tak berari sama sekali bagi Frans.

Frans saat itu semakin keranjingan dengan narkoba, saat malam tahun baru merambat perlahan tanpa Stefani disisinya, Frans semakin gila   berkencan dengan narkoba, semakin dia liar terbang ke angkasa, membumbung tinggi dalam atmosfer imajinasinya, Sehingga dia tidak  mampu lagi menginjakan kakinya di bumi,  Frans tersungkur dan meluruh karena overdosis, yang membuat ortunya,  semua sokibnya terlebih Stefani kehilangan dia dan larut dalam penyesalan. Kini memori itupun menjalar kembali di tiap sendi, sudut hati dan degup jantung Stefani di malam tahun baru 2013, yang diluar dugaan sokib sokibnya klo Stefani sudah mampu menepis memori itu jauh jauh.

***

            “Aku salut sama lo, sobat cantiku !” lengking suara  Lily menyapu tiap sudut beranda rumah Stefani.  Stefani menyibakan rambutnya dan meluruskan wajahnya kearah Lily dengan senyum tersungging di bibirnya, terlihat wajah yang ayu alami meski di sudut hatinya masih menyimpan kegalauan hati.

            “Bener Lily Fan !, lo kadang lebay seperti anak kecil tapi kadang pula mampu bersikap seperti wanita dewasa, dah cukup perhatian lo pada Frans, kini tinggal kamu memikirkan diri kamu sendiri “ Ririn menambahkan.

            “Trim ya friend !, dah habis curhatku pada lo semua, kini aku sudah lega. Ada yang tersisa di hatiku, yang penting aku udah berbuat maksimal untuk Frans, tapi dia memilih cara hidupnya sendiri, dan mama papanya Frans  pun tahu tentang itu” seru Stefani  yang kelihatan sudah berbinar binar wajahnya.

            Stefani kini larut dalam canda sokib sokibnya, sementara malam tahun baru semakin merayap hingga halaman rumah Stefani terang benderang di hujani kembang api, bayangan Frans di hatinya kini sirna ditelan gairah hidup Stefani yang baru. Semua sokibnya kinipun ikut berceria bersama Stefani***

 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar