Minggu, 25 November 2012
Kabut Biru
Malam yang pekat ini betul betul menjadi sokib setia Revie , yang
sering menyandarkan kedua tangan dan kepala pada lututnya di springbeed,
berseprei biru, sebiru derita dan galau hatinya. Bilah hatinya yang sedang
larut dalam galau dan sendu, benar benar tidak mau bersikap kompromi dengan
benak otaknya, yang sebenarnya berhasrat untuk bisa terlelap sepanjang malam
ini. Namun hingga suara kokok ayam jantan dari kejauhan yang melengking tidaklah
membuat kedua matanya yang sembab itu terlelap, tapi kokok ayam jantan yang
saling bersahutan itu serasa malah menertawainya.
“Kamu pasti bisa melaluinya, Vie
!”, kata kata bijak beberapa tahun silam itu kini memenuhi benak hatinya, lantaran kata
kata itu yang terkadang mampu menghilangkan galau hatinya, meski hanya beberapa
saat. Saat kata itu muncul, kegalauam Vie pun kembali meluruh, namun derita
hati yang menderanya jauh lebih berat dari magis kata kata dari guru BP-nya di
sekolah. Terutama rasa rindu yang
mendalam dengan mama, curahan kasih sayang sejatinya, yang selama beberapa
pupuh tahun mengembangkan bisnis keluarga mereka ke Malaysia. Namun hingga kini
tiada angin lalu seberkaspun yang mengabarkan di mana mamanya berada, apa jatuh
ke pangkuan pria lain atau meninggal di sana atau telah sukses bisnisnya
sehingga tidak mau kembali ke Indonesia lagi.
***
“Revie, jaga adik adikmu !, besok
pagi papa berangkat ke Malaysia. Papa
janji akan selalu mengabarimu !, ketemu apa tidak dengan mamamu !” sebuah
janji papa Revie pernah meluncur dan hingga kini masih terus kental menetap di
sudut hati Revie, meski sudah lima tahun
berlalu. Namun janji itu hilang ditelan angin binal, sehingga bagi Revie janji papanya hanya sebuah
kata perpisahan. Penantian panjang Revie dan adik adiknya sekarang bertambah
panjang dan berat, rindu pada mama saja belum terobati, apalagi ditambah dengan
teganya papanya meninggalkan mereka begitu saja. Hingga ingin rasanya Revie
melengkingkan teriakan panjang agar di dengar tebing tebing yang memusari rumah
sederhana itu, namun apa daya bila tebing tebing itu hanya diam membisu.
Bibir yang memucat dan rongga kedua
mata yang dalam di wajah yang dingin seperti mayat hidup mengubah penampilan
Revie, yang dulunya dikenal remaja gaul yang cantik kini mirip dengan nenek
sihir. Namun guratan kecantikanya di wajah yang dia miliki masih kelihatan
jelas. Beberapa tahun silam Revie menjadi kembang yang banyak dipusari cowok
cowok gaul di sekolahnya, tetapi mereka kini menjauh lari ketakutan seperti
melihat hantu kuntilanak di siang hari bolong. Namun bagi Revie kepedihan
hatinya itu, tidak seberapa ketimbang kasih sayang ortunya kepada dia dan adik
adiknya yang begitu saja putus di tengah jalan.
Apalagi setelah dia putus sekolah
dua tahun silam, yang terpaksa dia lakukan demibiaya untuk sekolah adik adiknya
yang entah dari mana dia dapatkan. Semua gemerlap yang pernah dia miliki pupus
begitu saja, sokib sokib setia yang meninggalkan dia karena rasa simpatik
terhadapnya telah hilang. Mobil pemberian papanya yang terpaksa dia jual untuk
keperluan hidup dan sekolah adik adiknya. Semua telah sirna, bahkan sofa sofa
serta mebel jati kuno terpaksa dia jual dengan harga murah.
Namun apapun alasanya, Tuhan Yang
Kuasa menciptakan machluk yang bernama manusia seperti kita, yang dilengkapi dengan software kepedulian, tinggal
masalahnya kita berkehedak mengaplikasikan apa tidak. Di balik rasa iba yang
dimiliki semua sokib Revie terhadapnya, sebagian besar hanya tersimpan di dalam
lubuk hati mereka semua, kecuali bagi Ardie yang berteman dengan Revie sejak
mereka masih duduk di SMP, sejak Revie masih utuh dalam mendapatkan kasih
sayang dari kedua orang tuanya. Apapun keadaan yang dialami Revie, Ardie tidak
pernah berlalu begitu saja, meski mereka betaut hanya sebatas sahabat saja.
“Vie ! , akupun tidak mau menerima
cobaan sepertimu, aku nggak bakalan kuat !” seru Ardie di sore hari di beranda depan rumah Vie, yang dindingnya mulai kusam
dan retak di sana sini.
“Apa, maksudmu ?” sanggah Revie.
“ Yah..!, seperti kamu jelasnya juga nggak bakalan
tahan dengan derita ini, karena tidak ada pilihan lain, kamupun harus menerima
ini semua “
“Ardie !, akupun tidak mau terus
terusan curhat padamu, aku kasihan sama kamu yang dulu sering menjadi tempat
curhatku, aku sudah mulai tahan dengan ini semua. Justru dengan cara seperti
inilah aku bisa menjadi wanita yang kuat “
“Aku percaya, Vie !, kamu sekarang
sudah mulai menemukan diri kamu sendiri, aku yakin kamu mampu menjadi wanita
yang mandiri dan tangguh “
Revie hanya tersenyum manis dari
bibirnya yang mulai kelihatan memerah, dalam hatinya terus berkecamuk rasa
penasaan yang mendalam tentang hati sokib dekatnya, yang pemalu polos tapi
penuh perhatian. Mengapa dia selalu menyediakan waktu, tak segan menolong
dengan kedua tanganya yang ringan dan sering harus merogoh koceknya untuk
menolong Revie. Reviepun tahu hanya cowok ini yang cocok dihatinya, apabila dia
harus bersanding denganya mengayuh bahtera hidup. Namun Ardie tidak pernah
memberi perhatian khusus itu, dia hanya semata-mata menolongnya lantaran
Ardiepun pernah jatuh sama seperti yang dia alami sekarang. Sehingga sekarang
Ardie hanya mampu menamatkan sekolahnya sampai SMA dan bekerja di pabrik
sebagai tukang las listrik.
Tapi bagi Revie apapun kondisi
Ardie, dia tetap menerimanya, bukankah kondisi cowok itu jauh lebih baik
darinya. Bahkan dalam hati Reviepun telah mulai tumbuh getar halus padanya,
namun Reviepun masih menunggu kapan cowok
itu bisa bersikap macho, meski Revie tahu hati cowok itu bagaikan hati seorang
malaikat.
“Revie !” Ardie memanggilnya,
sehingga lamunan Revie menjadi meluruh.
“Ya, ada apa !”
“Maafin, ya !, kalau ucapanku
membangkitkan kenangan pahit untukmu “
“Never mind, Ardie !. Kenangan
pahit biar menjadi masa lalu bagiku. Hmmm , aku ingin sebuah langkah ke depan
yang matang. Meski aku hanya seorang tukang cuci, aku sekarang mulai menatap
masa depanku, yang penting ke dua adiku bisa bersekolah” seru Revie dengan tatapan
mata yang berbinar ke Ardie.
“Syukurlah, Revie !, itulah yang
aku harapkan, kamu bisa bangkit dengan kondisi apapun sama seperti aku, yang
hanya tukang las “
“Ardie, kamu punya acara sore ini
?”
“Nggak, ada apa !”
“Kita jalan jalan ke mana aja,
mumpung langit cerah. Kita lupakan derita yang kita alami, yang penting sore
ini kita happy “
“OK, aku setuju bangget. Nanti
jangan lupa kita ke Istana Bakso, biar aku yang traktir !”
“Mari kita came on “
“Yoi...!!!!”
Kedua remaja itupun menembus
keramaian kota, untuk melabuhkan hatinya masing masing. Karena asmara bukan
hanya milik para juragan atau kalangan the have saja, tetapi mereka berdua yang
mulai bangkit dari keterpurukan juga berhak untuk memiliki. Kabut hitam yang
selama bertahun tahun menaungi hidup Revie, kini mulai memucat dan berganti
warna biru ***
Selasa, 13 November 2012
Kelambu
Seperti meniti tali yang terbentang dan dipenuhi duri tajam yang tak berujung dan harus dilalui. Sedangkan tautan kedua ujung tali itu. tak begitu kokoh bertambat dengan puncak tebing yang menghimpit tubuh Rakian dengan kokohnya. Namun Rakian harus terus menitinya. Entah sudah berapa kali Rakian melewatinya, entah ujung yang mana yang sudah dijamahnya. Sementara di sebelah kanan kiri tali itu, jurang menganga siap menyantap tubuhnya. Gentarpun harus disimpanya kuat kuat dalam lubuk hatinya. Apalagi rasa pasrah dan tertunduk lesu, dia buang jauh jauh hingga tak tampak lagi lakon hidup yang menyesakan dada.
Sesekali lakon hidup yang dilalui terasa sangat menusuk jantungnya, sesekali pula timbul dalam hatinya, perasaan pantang surut ke belakang demi Ardian dan Elly dua bocah laki laki dan perempuan, sebagai buah hati perkawinan dengan Russ Kania selama beberapa tahun. Perkawinan yang sangat menjadi dambaan Rakian, sejak dia dan Russ benar benar bertaut dalam pelukan mesra. Hingga lahirlah Ardian 4 tahun sesudah dia mulai mengarungi bahtera sebagai suami dan Elly 8 tahun kemudian. Tak ada sisi gelap satupun dalam hidup yang berkelambu kemesraan dan kesetiaan yang pernah menusuk dalam dalam jantungnya di masa lalu.
Masa masa indah mengawali kehidupan mereka, meski dia hanya tenaga cleaning servis di perusahaan konsultan konstruksi dan interior design yang cukup beken di kotanya. Saat itu bagi Rakian, adalah yang hanya mampu diperbuat olehnya, yang hanya berijazah SMA. Peluh dan sesekali kesah menjadi bagian kesehariannya dalam hidup yang dimiliki, sedangkan bergulirnya jarum detik terus memburunya, semakin lama detik itu menggigitnya dan semakin pula dia merasa tersudut. Meskipun dengan jerih payahnya dia mampu membelikan Russ rumah mungil di sudut kota, yang masih sepi dari taburan eksotis kota yang begitu liarnya.
Russ istrinya yang bergaya selebritis muda, hanya menampakan wajah wajah gelapnya selama menempati rumah mungil, berdinding batako dan beratap asbes. Bergaul dengan tetangga tetangga yang dipandang Russ hanya sebagai masyarakat kelas bawahan, yang norak dan tak berkelas. Sedangkan Russ selalu bergincu bibir mirip artis sinetron muda yang kontraknya mencapai milyaran rupiah. Di bawah asbes yang sudah mulai rapuh dan berdebu inilah Russ selalu menuntut Rakian demi sebuah hidup bergaya selebritis.
Rakian hanya tertunduk lesu bila seharian Russ memberondongkan umpatan, tentang ketidakmampuan Rakian dalam menuruti kemauan sang selebritis tinggi hati itu. Kedua anaknyapun seharian itu pula menempel dan menggayutkan pada tubuhnya. Sama sekali rasa kasih sayang pada kedua putranya tidak luntur sedikitpun, meski dia sering tersudut oleh impian dan khayalan istrinya. Dengan raut muka polos dan bening mata yang indah kedua anak anaknya tidak menghiraukan apa yang keluar dari mulut Russ ibunya, Rakianpun sama seperti kedua anaknya yang sama sekali tidak menghiraukan serentetan tuntutan selebritis yang bagaikan sedang tidak punya order kontrakan lagi. Meski sorot mata pria ganteng itu tidak mampu menyembunyikan perasaan yang bercampur, pilu, marah, sedih dan bingung.
Apalagi bila Russ melihat tetangga yang memusari dia terus saja merehab rumah mereka, dengan gaya rumah mpdern bergaya romawi, berdinding batu alam dan berlantai keramik. Diapun bagaikan macan lapar yang siap melahap tubuh Rakian yang tinggi. Entah iblis mana yang merasuk dalam aliran darah Russ Kania, sehingga dia menjadi nanar matanya, tak sehalus dan selembut saat awal awal pernikahan mereka. Russ saat itu tidak memperdulikan dia tinggal di rumah apapun, derita yang paling menunjamkan hatinya, diapun lega menerimanya. Tetapi kini jauh berbeda. Kelambu pengantinya yang dulu dia sulam dari benang sutra, yang lembut dan halus, kini telah meluruh menjadi kelambu penuh kepengapan.
_______________
“Hanya kita saja, yang belum merehab rumah ini, Mas. Sedangkan tetangga kita sudah berganti tembok , berdinding genteng, pakai keramik lagi lantainya. Sedangkan kita membeli tv plat saja model sekarang tidak mampu” pagi-pagi sekali di Hari Minggu Russ sudah memprovokasi suaminya, yang dulu dianggapnya Sang Arjuna, yang mampu merobohkan jantung hatinya. Sementara Rakian seperti biasanya tidak memperdulikan ocehan wanita yang sangat dicintainya, yang memberinya dia putra dan putri, yang ganteng dan ayu mirip ibunya.
Rakian hanya sibuk memandikan kedua putranya dengan seloroh yang lembut, penuh belaian kasih sayang, berlainan dengan ibunya yang melipat wajahnya bagaikan nenek lampir dari Gunung Merapi, meski sama sekali tidak terdapat guratan ketuaan di kulit wajahnya yang putih mulus.
Namun betapa penasaran hati Rakian pagi itu, karena tidak seperti biasanya Russ berdandan sangat modis, dengan make up yang belum pernah dia belikan. Memakai stelan underok yang minim dengan kaos yang ketat. Sementara rambutnya dibiarkan terurai hingga pundaknya. Entah dari mana Russ mendapatkan sepatu yang berhak agak tinggi, dengan warna kulit kemerahan. Kedua anaknyapun menyampaikan protes kepada Rakian bahkan sempat memberontak menuntut untuk ikut ibunya, yang tak tahu entah kemana tujuan perginya. Namun protes itupun menjadi surut kebelakang, setelah kedua mata ibunya yang bundar memberikan sorot mata garang dan menghardiknya, supaya tidak usah ikut denganya.
“Mereka berdua kecewa tidak kamu ajak pergi, Russ ? ”. Rakian mencoba membujuk Russ agar di Minggu pagi ini, Russ mengajak mereka untuk jalan jalan.
“Mengapa kau memintaku seperti itu ?” jawab Russ.
“Kamu kan ibunya, mereka butuh kamu, Russ ?”
“Mas Rakian, aku ada janji dengan temanku “
“Kemana ? “ seribu rasa penasaran kini bersemayam di hati Rakian
“Apa perlumu ?” Russ mejawab dengan sebuah bentakan yang melengking.
“Aku kan suamimu, Russ ? “
Ruang tamu yang sederhana beralas semen yang sudah banyak mengelupas kini lengang dan membisu. Rakian hanya tertunduk wajahnya dengan kedua bahunya yang masih digayuti kedua putranya. Seakan akan Rakian tidak mampu barang sedikitpun untuk menghalangi kemauan istrinya. Russpun segera berlalu tanpa say goodbye, kedua sorot mata anaknya terus mengikuti tubuh ibunya, yang tak lama menghilang di pertigaan ujung gang mereka yang kumuh. Rakianpun tahu apa yang akan dilakukan istrinya itu, tapi tak pernah mencoba untuk menahanya. Sebab bagaimanapun juga itu adalah hak istrinya untuk menentukan sikap, sebagai rasa kecewa pada dirinya yang sudah bertahun tahun menghinggapi kalbunya.
Rakian kini dipersimpangan jalan, dilain sisi dia rela Russ menggapai kebahagiaan yang dia butuhkan untuk lifestyle yang dikejarnya. Tetapi di lain pihak kedua putranya membutuhkan belaian seorang ibu. Tapi bagaimanapun juga sebuah langkahpun harus dia beranikan, justru demi kebahagian kedua sisi yang melingkunginya. Russ sudah meluruhkan kasih sayangnya pada kedua belahan jiwanya, demi hanya kehidupan glamour yang dibidiknya, tanpa memperdulikan resiko apapun. Apabila Ardian dan Elly terus menemani kehidupan ibunya, maka mereka berduapun terus menjadi sasaran kemarahan ibunya. Namun getaran hati yang menggelora di beranda jantung Rakian, terus saja datang pergi silih berganti, antara Russ dan kedua bocah mungilnya.
Sementara malam telah merambat semakin larut, deru mesin kendaraan di gang depan rumahnya kini tidak terdengar lagi. Sesekali terdengar suara dentingan pinggan si abang bakso yang memecahkan kesunyian malam. Larutnya malam ini adalah saat yang paling memilukan, apalagi sering terdengar rintihan Elly memanggil ibunya demi segelas air susu hangat. Sementara Russ entah kemana menyelinap di tengah remang malam, atau mungkin dipelukan laki laki jalang demi selembar uang. Tapi yang jelas Rakianpun harus rebah keperaduan di samping kedua anaknya, yang telah merenda mimpi.
__________
“Sudah kau pikir dalam dalam Russ, untuk meninggalkanku ?. Cobalah bersabar demi Ardian dan Elly “ pinta Rakian, yang sudah mulai lapang hatinya menerima keputusan yang diambil Russ, suatu keputusan yang diyakini sebelumnya bakal diminta Russ. Kegetiran hatinya telah mulai tertepiskan lantaran sedikit demi sedikit hatinya menjadi tabah saat menerima kenyataan ini. Rakian telah cukup lama merasakan betapa beratnya menerima makian kasar, tuntutan dan seribu sikap Russ yang menikam ulu hatinya.
“Aku mengambil langkah ini justru demi mereka berdua yang masih butuh biaya. Sudahlah Mas Rakian, suatu saat akupun akan di tengah mereka kembali “. Inikah Russ Kania ?, wanita yang dulu justru mengejarnya untuk mendapatkan bilah cintanya, yang berjanji bersama mengayuh biduk hidup di tengah keadaan apapun. Tapi apakah ini sebuah lakon hidup yang harus dititi oleh manusia, yang bisa saja berubah tak tentu arah.
Berkali kali Rakian hanya mampu menelan ludahnya sendiri, dia masih terpaku berdiri di serambi rumah mungil, menyakisikan Russ Kania pergi berlalu dengan sebuah mobil mewah, meski terdengar dengkur kedua anaknya yang terlelap di tengah malam, setelah beberapa saat sebelumnya Russ Kania menciumi pipi kedua anaknya. Bagi Rakian malam ini memang malam tak berbintang gemintang, rembulan tertutup mega hitam. Tak lama kemudian terdengarlah adzan subuh menggema di malam pilu itu. Sedikit kesegaran dalam hatinya kini mulai ia dapatkan.
Langganan:
Postingan (Atom)



