Minggu, 25 November 2012

Senyum Sang Ratu

Merasa dirinya terus saja dikungkung perjuangan menggapai jalan hidup yang diinginkanya, Rosallia hampir –hampir putus asa. Dia sudah merasakan jalan hidup yang terbentang jauh di depanya telah dipenuhi kerikil tajam, berliku dan dikanan-kiri jalan hidupnya telah  ditaburi jurang-jurang yang siap melumat tubuh siapa saja. Namun Rosallia tak pernah berpikir konyol untuk hanya  berpangku tangan menghadapi sebuah birama hidup yang berdebu dan menyeskan dadanya. Bila dia melangkah surut,  Kota Jakarta siap menghisapnya dalam-dalam ke dalam kubangan lumpur yang hitam kelam.
Untuk kembali ke Tegal kota asalnya, jelas dia tepiskan gagasan seperti itu, karena di kota itu dia sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Kedua orang tuanya sudah meninggalkan dia setelah dia lulus sarjana, sedangkan adik semata wayangnya, entah tidak pernah memberi kabar berita. Rosallia hanya mendengar dari teman-teman adiknya,  bila Karel telah merantau ke Sumatra.
Hanya sepasang lengan kecil yang ringkih dan langkah kaki yang terbatas adalah ciri seorang wanita, apalagi bagi Rosallia yang masih lajang dan hidup dari kontrakan kamar satu dengan lainnya,  dari debu dan deru jalan jalan Kota Jakarta yang menghitamkan kulit tubuh dan sering membuat dadanya tersengal. Sebenarnya benak hatinya dalam rongga dadanya telah menjerit, melengking ke semua atmosfer hidupnya. Namun lengkingan seorang wanita di tengah hiruk pikuknya Kota Jakarta apalah dayanya. Lengkingan itupun akan dipantulkan oleh tebing-tebing yang tinggi, kokoh dan membisu. Kedua mata Rosalliapun harus mampu meredup, kala perjuangan hidupnya begitu menyesakan dadanya. Kala dia menjadi korban akal bulus Ardian yang menjanjikan kehidupan bahagia, manis dan manja di Kota Sejuta Lampu itu.
***
Kali ini Rosallia hanya mampu meratapi apa yang terjadi pada dirinya, saat dia dipanggil kabag personalia di kantornya tentang phk yang dideranya. Sekali lagi dia mencoba meyakinkan keputusan atasanya itu untuk menepiskan rasa percaya pada dirinya sendiri. Sejak dia selalu terseok menapaki jalan hidupnya yang beralasan kerikil tajam, kerap dalam benak Rosallia timbul perasaan tidak percaya. Namun kenyataan itu kini telah berkali-kali membisikan dalam bilik jantungnya untuk segera tabah dan tawakal menerimanya di saat usia dia telah hampir mencapai 30 tahunan.
Semua bunga-bunga yang berjejer rapi di atas pot semen ikut terlihat layu. Mereka ikut engucapkan selamat tinggal  di sepanjang jalan paving blok. Hanya Wella yang menjemput dengan membukakan kedua tangan untuk sebuah pelukan pada Rosallia. Merekakemudian saling menumpahkan isi hati dengan bahasa air mata, yang entah bagi Rosallia air mata yang keberapa kali dia tumpahkan.
“Ros, sabar ya !”. Rosallia hanya menganggukan wajahnya.
“Kita masih bisa bertemu lagi, kan Wel ?”
“Pasti Ros !, kita sama sama datang ke Jakarta dengan hanya sebuah tekad. Mengapa kita mesti berpisah. Tolong kabar kabar ya Ros ?”. Seberkas senyum Rosallia kini terlihat menghias di bibirnya.  Senyum itulah yang biasa disodorkan wanita yang biasa tampil “exciting” sepanjang hari termasuk
dalam meretas bilah hidup di Jakarta, yang penuh liku dan karang terjal dingin membisu. Hanya terlihat kini kedua wanita lajang yang cantik saling melepas pelukan, suatu pertanda mereka berdua kini mulai bersiaga menghadapi kehidupan esok pagi.
Sebuah rumah berdinding tembok dan papan di Bantaran Sunga Ciliwung tiada sedikitpun menawarkan senyum pilu, meski sebagian papanya yang berada di atasnya telah menghitam disentuh banjir sungai itu yang kerap menderanya. Termasuk juga ancaman banjir saat saat ini di awal tahun, Rosalliapun telah siap membenahi semua perabot rumahnya agar mampu terhindarkan dari luapan air sungai. 
Pagi itu di sela gerimis tiada henti memagut Kota Jakarta, Rosallia lebih akrab dengan rumahnya kontrakannya yang pada hari-hari biasanya dia mengabaikan begitu saja. Semua perabotanya dilepaskan  dari debu debu yang sudah cukup banyak menumpuk. Nyanyian kecil terus saja melantun di rumah separo papan yang kini terasa lebih hangat. Wanita lajang yang cantik dan berambut model Demi More itu menyambt harinya tanpa memperdulikan nasibnya kini yang telah diphk perusahaanya yang sedng terbelit kerugian. Dia terus berbenah bersama-sama ibu-ibu warga Tebet Dalam untuk menyambut rencana kedatangan  Kate Middlleton ke pemukiman kumuh tersebut.
Sebentar sebentar Rosallia diberi pengarahan Bu RT, staf kedutaan Inggris ataupun aparat lainnya yang aktif memoles dan mensterilkan keamanan pemukiman itu.
“Non Rosa !, nanti ikut menyambut kedatangan Kate Middleton , ya !” pinta Bu RT di sela kesibukan wara sekitarnya.
“Baik Bu RT  !, tapi acaranya apa saja bu ?, aku nggak tahu ?”
“Aku sendiri nggak tahu, Non !, itu urusan staff kedutaan dan pejabat pekmot atau aku juga nggak tahu non !”
“Terus kalau Bu RT  nggak tahu, kita kita ini harus bagaimana ?”
“Kata Pak RW sih kita hanya disuruh pakai pakaian adat Jawa untuk menyambut sang ratu “
“Aku nggak punya pakaian adat  lho bu !”
“Itu gampang non dari pemkot nanti meminjami “
“Kan ibu- ibu lainnya masih banyak yang bisa menyambutnya !, biar aku nggak ikut saja, bu ?”
“Eh, Non Rosa cantik lho, apalagi kalau didandani pakaian adat, pasti nanti bakal jadi primadona di acara itu !”
“Ah,  Bu RT   bisa aja ?,  ya bolehlah bu !. Tapi nanti aku hanya ngikut aja ya bu ?”
“Nggak bisa gitu Non !, justru Non Rosa yang dijadikan tumpuan ibu-ibu untuk menyampaikan misi ini !”
“Misi apa ya bu ?, kok jadi serius sih bu ?”. Rosallia mengkerutkan kedua alis matanya, wajahnya tidak setawar semula, meski dia tidak keberatan dengan tugas moralnya itu, tapi lantaran dia sama sekali tidak tahu maksud misi yang diembanya, maka kini dia merasa seperti wanita bengong di tengah kerumunana ibu ibu warga sekitarnya yang memang nasibnya harus diperjuangkan. Beberapa ibu lainya kini mulai gabung dengan diskusi jalanan di Bantaran Sunga Ciliwung. Mereka semua berniat mengusung suatu misi diam diam untuk sebuah perbaikan nasib dan pemukiman mereka, saat sang ratu berada di tengah mereka.
“OK deh ibu-ibu, tadi Bu RT  memintaku menyampaikan misi kita pada Kate Middleton. Tapi aku nggak tahu harus bicara apa ?”
“Non Rosa bisa bicara bahasa Inggris ,kan ?” tanya salah satu ibu yang mulai bersemi sebuah harapan di hatinya.
“Lumayan bu !, dulu setiap ada kunjungan tamu dari luar negeri di kantorku, aku disuruh bosku menjadi jubirnya”.
“Ah kebetulan sekali, kita tanpa protokoler bisa langsung curhat dengan Sang Ratu Inggris. Dan minta disampaikan langsung pada Presiden SBY tentang nasib kami” pinta Bu Ramelan.
“Tapi misi ibu-ibu itu apa ?, aku belum tahu ?”
“Gini lho Non Rosa, Pemprov Jakarta berencana menjadikan Sungai Ciliwung sebagai Kawasan Wisata Air, maka kami semua dalam waktu dekat akan digusur begitu saja. Makanya kamu pengin curhat dengan sang ratu.
“Beruntung minggu kemarin ada beberapa wartawan CNN dan BBC News yang menayangkan di media mereka lengkap dengan pengambilan gambarnya. Sehingga penggusuran dibatalkan”, sahut Bu RT .
“Ibu nelihat sendiri tayanganya ?”
“Oh iya Non Rosa !. Bahkan mereka akan menyampaikan kasus ini ke Komisi Hak Azasi Manusia Internasional bila pemerintah menelantarkan kami “ kata Bu Hamzah.
“Terus keinginan warga itu apa ?” sahut Rosallia.
“Kami inginkan sebuah relokasi yang permanen seperti rasunewa, meski kami harus membelinya dengan harga murah “
“Oh...begitu, tapi aku nggak berani  janji ya bu !,karena masalahnya aku bisa dekat dengan Ratu Inggris nggak, itu masalahnya. Kita terbentur masalah protokoler nantinya.Tapi nanti aku coba ya !”
“Ada beberapa momen yang paling memungkinkan untuk Non Rosa untuk hanya sekedar ngobrol menyampaikan misi kami secara non formal, yaitu saat Sang Ratu Inggris datang dan diperkenalkan dengan kami semua, saat itu kami semua berniat menerobos pengamanan untuk berbicara hanya beberapa menit saja “ Bu RT menambahkan.
“Tapi dia si cantik itu,  apa mau mendengarkan keluh kesah kami,  Bu RT ?” Bu Agus masih belum percaya dengan misi itu.
“Justru itulah mereka mengadakan kunjungan ke Indonesia sama seperti kunjngan Lady Dy dan Pangeran Charles ke Indonesia beberapa tahun lalu “ jawab Bu Santoso.
 “Ibu- ibu jangan khawatir, keluarga Kerajaan Inggris dikenal seantero dunia sebagai figur yang peduli sesama dan pendengar yang baik, tidak seperti pejabat pejabat lainnya. Oleh karena itu kita sangat beruntung kedatangan mereka “ .
Mereka yang hadir di diskusi jalanan itu sebagian besar masih menggayutkan wajah tak percaya akan misi ini. Bahkan sebagian lagi masih memendam rasa khawatir bila misi itu menimbulkan sesuatu yang tidak mereka inginkan. Lantaran sebagian besar dari mereka adalah insan insan yang hanya memiliki kulit, daging dan tulang yang tiada seberapa kokohnya.                 Mereka telah terlanjur bermukim di pemukiman liar di bantaran, apabila Pemprov masih bersikeras menggusurnya merekapun hanya menerima dengan pasrah. Meski sebagian besar dari mereka sudah menyekolahkan anak anak mereka di sekolah terdekat dan sebagian lainnya sudah menetap di kios –kios permanen.
Mereka kinipun hanya mampu terpaku diantara kerumunan ibu-ibu yang berdiskusi.
“Kalau ibu-ibu masih khawatir, OK-lah aku akan ke kedubus Inggris,kebetulan aku punya teman yang kerja di sana. Aku akan minta waktu barang 5 menit untuk berdiskusi dengan  Kate Midlleton. Kita coba saja barangkali kita mendapatkan jalan untuk ini “. Rosallia memaparkan hasratnya dengan suara yang datar dan perlahan, agar kata-katanya mampu menyelinap dalam relung jantung semua ibu yang hadir.
“Horeeeee....Hidup Non Rosa, Hiduup....Sang Ratu Rosallia “. Tanpa suatu komando mereka semua bersorak kegirangan. Kegirangan untuk sebersit upaya membela nasib mereka,yang selama ini tidak ada satu pihakpun yang peduli.
Mereka kini telah pulang ke rumah kumuh mereka masing-masing, karena hari sudah siang. Tinggalah kini Rosallia yang anganya serasa hendak merobek langit, terbang tinggi dan tinggi memikirkan jalan hidupnya dia sendiri yang masih belum jelas, dan yang lebih menyita ruang hatinya adalah perjuangan membela nasib tetangganya.
Rosallia kini tenggelam dalam kancah perjuanangan membela nasibnya sendiri. Jarum jam masih  berlari tak ada yang berniat menghentikanya.
***
Kate Middleton tidak mampu menyembunikan senyum bahagia ke semua warga yang tumpah ruah di sepanjang Bantaran Sunga Ciliwung. Kesahajaan tetap saja ditampilkan sang ratu ini, dengan mengenakan stelan rok sebatas lutut dan berlengan panjang serta berwarna biru muda, model pakaian resmi karyawan perusahaan swasta. Satu demi satu dia menyalami semua tamu undangan dengan senyum rang renyah.
Sekali sekali Kate Midlleton melempar pandangan ke arah tamu ibu-ibu warga Bantaran Sunga Ciliwung, yang berdandan pakaian jawa dengan stelan atasnya berwarna hijau daun, terutama kepada Rosallia yang cantik jelita. Dengan dandanan tradisional itu Rosallia tidak berbeda dengan aktris Bolywood Hema Malini. Sebersit rasa kagum pada kecantikan wanita Indonesia ini.
Tiba giliran ibu-ibu warga bantaran diperkenalkan oleh protokoler, semua ibu kini memandang dan menanti sang jubir yang cantik jelita untuk memberikan curhatnya.
“Please Miss Rosallia !” demikian pinta sang pendamping Kate Middleton dari kedutaan Inggris yang sebelumnya telah dilobi Rosallia, untuk memberi kesempatan barang beberapa menit pada Rosallia untuk memaparkan derita warga sekitarnya.
Dengan native speaking yang lancar, disertai tawa yang renyah kedua wanita cantik itu saling berdiskusi. Kate Middlelton tak disangka memberikan antuias yang tinggi dan berkenan mendengarkan dengan jeli meski waktu untuk berbicara antara keduanya telah jauh melewati batas limit, namun Sang Ratu Inggrispun tidak memperdulikan. Bahkan kini dia mengajak Rosallia untuk berjalan menyisir bantaran sungai. Kelihatan mendung tebal kini menyelimuti wajah sang ratu menyaksikan penderitaan sebagian manusia di Indonesia, meski wilayah ini bukan termasuk kedaultan Inggris Raya.
Rosalliakini mengajak  Kate Middleton untuk sekedar mencicipi masakan sayur asam dan ayam goreng hasil masakan warga setempat. Kembali Kate Middleton mengurai senyum renyahnya. Kini mereka berdua bagaikan ratu kembar yang sama sama menawan hadirin yang datang, termasuk juga staf protokoler kedutaan yang akhirnya hanya membiarkan mereka berdua berdiskusi. Kate Middleton yang semula hanya Rosallia lihat di TV kini benar benar berada di sampingnya, bahkan mereka kini berdua bagaikan sahabat yang lama tak jumpa.
Hari telah beranjak siang, misi yang terakhir bagi jubir warga Bantaran Sungai Ciliwung adalah memohon kepada Keluarga Kerajaan Inggris itu untuk menyampaikan penderitaan mereka semua kepada Presiden SBY, salah satunya adalah menampung mereka dalam relokasi yang terjangkau. Tak diduga oleh Rosallia kini Kate Middleton memeluk dia dengan sebuah bisikan di telinganya, bahwa dia akan berusaha menyampaikanya dan sebuah hasrat untuk mendirikan sebuah LSM Internasional untuk sebuah pengentasan kemiskinan di indonesia, dan dia mempercayakan Rosallia untuk memimpinya. Sebuah senyuman paling renyah dan tulus kini menghiasi bibir Sang Ratu Rosallia ***.

Try Out Cintaku

Seharian penuh Keane hanya dikamar flamboyanya untuk “full day taking a rest” segalanya. Setelah satu minggu silam  kegiatan rutinitasnya terus menerus menyita tenaga, hati dan pikiranya. Setelah seminggu lamanya Keane harus ikut Try Out di sekolahnya.  Keane untung saja menyadari bahwa hidup memang sebuah perjalanan yang dia sendiri tidak tahu “ending dan beginning” dalam sketsa yang mau tidak mau manusia hanya melangkahkan kakinya.
Lagu jadul dan melangkonis “My Way” yang dibawakan Frank Sinatra kesukaannya perlahan menyelip di tengah kalbunya. Keane  sedikit terhipnotis dengan isi lagu my way tersebut, yang menggambarkan sebuah perjalanan seorang manusia dalam menggayuti harapan hatinya. “Ya, apa sih yang bisa diperoleh dengan begitu saja di dunia ini ?” , tanpa disadari sebuah pertanyaan dari hatinya dilontarkan kepada tebing-tebing tinggi yang memusari semua perjalanan hidup manusia, atau pada Puncak Jaya Wijaya, Mount Everest atau Puncak Wedus Gembel yang hanya diam membisu.
“Perjalanan ?, begitu beratnya sejak Andi datang untuk pamit pergi ke Padang mengikuti papa dan mamanya yang pindah kerja. Inikah awal aku menuai try out hidup dan cintaku. Lebih dari try out yang dibuat oleh guru-guruku !”.
Saku  t- shirt tergetar karena calling seseorang di Hpnya, Keane segera memungut Hp bercasing biru muda, yang menjadi teman dekatnya di malam minggu ini. Semoga saja Andi di malam ini yang menggetarkan  hatinya bahkan makam minggu ini yang menjadi milik mereka berdua.
***
“Hallo, young lady yang kaya Kate Middleton, lagi nglamun ya ?”
“Ini siapa ? “
“Ah ini aku, lupa suaraku ya ?”
“Sorry friend !, ini Raphael, ya ?”. Meski dia sudah lama tidak pernah gaul bareng dengan cowok ini, namun renyah senyumnya mirip Jenderal Soeharto, tidak terlupakan Keane.
 “Good, kamu memang cewek yang nggak gampang lupa sama teman, ngapain kamu di rumah saja ?. Kalau kamu nggak capek biar gabung sama teman lama kamu malam ini  di rumah Betty. Aku samper kamu kalau nggak ada acara !”
“Makasih Raphael!, badanku lagi cuapek, aku mo istirahat dulu. Gampang lain waktu saja aku gabung “
“Pasti lagi merajut angan, ingat sama Andi yang ada di Padang ?’
“Kamu kenal Andi ?”
“Siapa yang nggak kenal dia sih, Keane !. Beruntung kamu dapatkan dia. Cowok ganteng hitam manis dan termasuk smart boy. Kamu kehilangan dia kan !”
“Ah sok tahu kamu ?. Bagi aku dan Andi tidak pernah mengenal arti kehilangan. Kami hanya teman saja”
“Maaf Keane !,  ini mengganggu privasimu. Aku tahu pasti kamu kangen sama dia. Iya kan ?”
“Sorry Raphael !, biar masalah ini hanya untuk aku dan Andi saja.Aku bukan cewek ingusan yang terjebak dalam romantisme remaja. Aku dan dia masih jauh dalam perjalanan hidup kami masing-masing “
“Tapi kalau kamu sendirian di rumah,  apa salahnya kamu gabung teman lamamu yang ngumpul di rumah Betty. Setelah ngumpul kita bareng ke Cisarua untuk happy weekend dengan ikan mas bakar, OK setuju !”
“Gampang lain waktu, Raphael !”
“Aku kangen dengan canda tawa kamu !, seperti kita dalam kegiatan kemah persami di Cibubur dulu, Keane !’
“Aku juga kangen dengan Betty, Ardian, Anti dan Aldo untuk kumpul bareng lagi “
“Oh mereka juga sering mgomomg tentang kamu. Ayo dong kita reuni, nanti aku yang mamitkan sama mama papa kamu “
“Nggak usah repot-repot Raphael !, aku  mau istirahat. Lain waktu kita sambung lagi ya!”
 “Tunggu Keane !, jangan ditutup dulu !. Kamu sekarang beda sih !. Kamu takut    Andi cemburu kan  Keane ?. Udahlah kamu kan masih muda, ngapain kamu takut diputus Andi !. Kamu cantik lho Keane, gampang mencari pengganti Andi.”
“Sorry friend, kalau  kamu memang benar temanku ?, sebaiknya kamu nggak ngomong kaya gitu. Cobalah sedikit dewasa Raphael ! Meskipun kita masih remaja, cobalah sedikit menghargai  orang lain. Antara aku dan Andi masih bebas menentukan langkah masing-masing, dia tidak membatasi aku  dan  akupun  sebaliknya. Tapi bagi aku memang malam ini aku lagi capek”. Belum sempat Keane melontarkan semua  kata hatinya, Raphael yang entah mengapa menutup Hpnya sendiri.
Malam minggu perlahan merayap sepanjang benang waktu, sehingga rembulanpun memberikan isaratnya kalau malampun sudah agak larut. Keane masih mengaktifkan laptopnya untuk mendnengarkan MP 3 lagu lagu pop nostalgia kesukaanya. Satu demi satu lagu pop melo Pance Pondang menggayuti hatinya.
“Sedang apa Andi di sana.Apakah dia juga ingat aku, ada apa sebenarnya antara dia dan Andi. Hanya sahabat biasa ?, tapi mengapa dia selalu ada di hatiku. Atau karena aku yang bersikap biasa biasa saja sama dia, ataukah karena apa ?. Jujur saja aku merasa takut sama Andi, bila gabung bareng dengan Raphael, cowok yang norak” Bisikan hati Keane sekarang lebih berdenting ketimbang suara jarum jam di kamarnya dan suara lagu lagu barat klasik.
***
“Ketahuilah Keane!!,  di dunia ini tidak ada sesuatu yang mampu diraih hanya dengan membalikan tangan. Ingat pesan Bu Willy !”
“Iya bu !” . Masih ingat dalam memory Keane pesan Bu Willy pada dia, saat dia menerima hadiah atas pretasinya sebagai juara kelas di semester pertama kemarin. Namun Bu Willy sempat kecewa lantaran pada try-out yang pertama dua minggu yang lalu, nilai Keane masih belum memuaskan, Keanepun tidak tahu mengapa hal ini terjadi.
Bu Willypun hanya memberikan senyum kecilnya pada Keane atas kegagalanya. Namun Keanepun mampu menafsirkan senyum manis bu guru yang bijak dan pemerduli pada anak-anaknya, bahwa dalam hidup ini memang bukan hanya try-out pelajaran di sekolah yang harus dihadapi semua manusia. Tetapi lebih dari itu, manusia apa, siapa dan dimanapun pasti akan mengalami uji coba dalam kehidupan ini. Apalagi bagi diri Keane yang kini jauh dengan Andi.
Lamunan Keane menjadi meluruh berkeping kala Hpnya kembali berdering, diapun dengan sigap mengangkat Hpnya dan pada Screen Hpnya terbaca kata Andi, maka dengan jantung yang berdegup keras dia memencet tombol hijau.
“Met malam Keane, kamu belum tidur, lagi ngapain ?”. Suara Andi yang datar dan terdengar romantic memenuhi speaker Hpnya Keane. Namun suara itu berhasil menjerat urat syaraf Keane hingga gemetaran seluruh anggota badanya.
“Eeeh, ngggak ngapain, Cuma aku lagi kecapean ?”
 “Kecapean ?. emangnya kamu  habis dari mana ?”
“Aku nggak pernah main, Cuma kemarinkan try-out dan habis itu pembekalan UN sampai sore, mala mini aku Cuma diam membisu di kamar “
“Oh ya nilai try-outmu gimana ?”
“Jangan tanya itu, dong ?”
“Emangnya kenapa ?”
“Nilaiku hancur, semuanya di bawah 5. Jadi aku agak stress ?”
“Sama !,  aku juga nilainya seperti itu. Tapi nggak usah sedih dong !, kan UN masih lama. Yang penting kita siapkan nanti setelah lulus UN “
“Oh, ya Andi !. Kamu mau kuliah di mana ?”
“Aku sudah ngomong sama papa, aku akan balik ke Jakarta untuk kuliah di sini. Kita bisa gabung bareng lagi Keane. Ntar kalau kita lulus,  kita bareng nyari universitas yang cocok untuk kita berdua, OK ?”
“OK !, “
Meskipun malam minggu ini , Keane masih sendiri tanpa Andi disisnya, namun baginya sudah cukup bahwa malam minggu ini menjadi milik mereka berdua***



Kabut Biru

Malam yang pekat ini  betul betul menjadi sokib setia Revie , yang sering menyandarkan kedua tangan dan kepala pada lututnya di springbeed, berseprei biru, sebiru derita dan galau hatinya. Bilah hatinya yang sedang larut dalam galau dan sendu, benar benar tidak mau bersikap kompromi dengan benak otaknya, yang sebenarnya berhasrat untuk bisa terlelap sepanjang malam ini. Namun hingga suara kokok ayam jantan dari kejauhan yang melengking tidaklah membuat kedua matanya yang sembab itu terlelap, tapi kokok ayam jantan yang saling bersahutan itu serasa malah menertawainya.
“Kamu pasti bisa melaluinya, Vie !”, kata kata bijak beberapa tahun silam  itu kini memenuhi benak hatinya, lantaran kata kata itu yang terkadang mampu menghilangkan galau hatinya, meski hanya beberapa saat. Saat kata itu muncul, kegalauam Vie pun kembali meluruh, namun derita hati yang menderanya jauh lebih berat dari magis kata kata dari guru BP-nya di sekolah.  Terutama rasa rindu yang mendalam dengan mama, curahan kasih sayang sejatinya, yang selama beberapa pupuh tahun mengembangkan bisnis keluarga mereka ke Malaysia. Namun hingga kini tiada angin lalu seberkaspun yang mengabarkan di mana mamanya berada, apa jatuh ke pangkuan pria lain atau meninggal di sana atau telah sukses bisnisnya sehingga tidak mau kembali ke Indonesia lagi.
***
“Revie, jaga adik adikmu !, besok pagi papa berangkat ke Malaysia. Papa  janji akan selalu mengabarimu !, ketemu apa tidak dengan mamamu !” sebuah janji papa Revie pernah meluncur dan hingga kini masih terus kental menetap di sudut hati Revie, meski sudah  lima tahun berlalu. Namun janji itu hilang ditelan angin binal,  sehingga bagi Revie janji papanya hanya sebuah kata perpisahan. Penantian panjang Revie dan adik adiknya sekarang bertambah panjang dan berat, rindu pada mama saja belum terobati, apalagi ditambah dengan teganya papanya meninggalkan mereka begitu saja. Hingga ingin rasanya Revie melengkingkan teriakan panjang agar di dengar tebing tebing yang memusari rumah sederhana itu, namun apa daya bila tebing tebing itu hanya diam membisu.
Bibir yang memucat dan rongga kedua mata yang dalam di wajah yang dingin seperti mayat hidup mengubah penampilan Revie, yang dulunya dikenal remaja gaul yang cantik kini mirip dengan nenek sihir. Namun guratan kecantikanya di wajah yang dia miliki masih kelihatan jelas. Beberapa tahun silam Revie menjadi kembang yang banyak dipusari cowok cowok gaul di sekolahnya, tetapi mereka kini menjauh lari ketakutan seperti melihat hantu kuntilanak di siang hari bolong. Namun bagi Revie kepedihan hatinya itu, tidak seberapa ketimbang kasih sayang ortunya kepada dia dan adik adiknya yang begitu saja putus di tengah jalan.
Apalagi setelah dia putus sekolah dua tahun silam, yang terpaksa dia lakukan demibiaya untuk sekolah adik adiknya yang entah dari mana dia dapatkan. Semua gemerlap yang pernah dia miliki pupus begitu saja, sokib sokib setia yang meninggalkan dia karena rasa simpatik terhadapnya telah hilang. Mobil pemberian papanya yang terpaksa dia jual untuk keperluan hidup dan sekolah adik adiknya. Semua telah sirna, bahkan sofa sofa serta mebel jati kuno terpaksa dia jual dengan harga murah.
Namun apapun alasanya, Tuhan Yang Kuasa menciptakan machluk yang bernama manusia seperti kita, yang  dilengkapi dengan software kepedulian, tinggal masalahnya kita berkehedak mengaplikasikan apa tidak. Di balik rasa iba yang dimiliki semua sokib Revie terhadapnya, sebagian besar hanya tersimpan di dalam lubuk hati mereka semua, kecuali bagi Ardie yang berteman dengan Revie sejak mereka masih duduk di SMP, sejak Revie masih utuh dalam mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Apapun keadaan yang dialami Revie, Ardie tidak pernah berlalu begitu saja, meski mereka betaut hanya sebatas sahabat saja.
“Vie ! , akupun tidak mau menerima cobaan sepertimu, aku nggak bakalan kuat !” seru Ardie di sore hari di beranda  depan rumah Vie, yang dindingnya mulai kusam dan retak di sana sini.
“Apa, maksudmu ?” sanggah Revie.
“ Yah..!,  seperti kamu jelasnya juga nggak bakalan tahan dengan derita ini, karena tidak ada pilihan lain, kamupun harus menerima ini semua “
“Ardie !, akupun tidak mau terus terusan curhat padamu, aku kasihan sama kamu yang dulu sering menjadi tempat curhatku, aku sudah mulai tahan dengan ini semua. Justru dengan cara seperti inilah aku bisa menjadi wanita yang kuat “
“Aku percaya, Vie !, kamu sekarang sudah mulai menemukan diri kamu sendiri, aku yakin kamu mampu menjadi wanita yang mandiri dan tangguh “
Revie hanya tersenyum manis dari bibirnya yang mulai kelihatan memerah, dalam hatinya terus berkecamuk rasa penasaan yang mendalam tentang hati sokib dekatnya, yang pemalu polos tapi penuh perhatian. Mengapa dia selalu menyediakan waktu, tak segan menolong dengan kedua tanganya yang ringan dan sering harus merogoh koceknya untuk menolong Revie. Reviepun tahu hanya cowok ini yang cocok dihatinya, apabila dia harus bersanding denganya mengayuh bahtera hidup. Namun Ardie tidak pernah memberi perhatian khusus itu, dia hanya semata-mata menolongnya lantaran Ardiepun pernah jatuh sama seperti yang dia alami sekarang. Sehingga sekarang Ardie hanya mampu menamatkan sekolahnya sampai SMA dan bekerja di pabrik sebagai tukang las listrik.
Tapi bagi Revie apapun kondisi Ardie, dia tetap menerimanya, bukankah kondisi cowok itu jauh lebih baik darinya. Bahkan dalam hati Reviepun telah mulai tumbuh getar halus padanya, namun Reviepun masih menunggu kapan  cowok itu bisa bersikap macho, meski Revie tahu hati cowok itu bagaikan hati seorang malaikat.
“Revie !” Ardie memanggilnya, sehingga lamunan Revie menjadi meluruh.
“Ya, ada apa !”
“Maafin, ya !, kalau ucapanku membangkitkan kenangan pahit untukmu “
“Never mind, Ardie !. Kenangan pahit biar menjadi masa lalu bagiku. Hmmm , aku ingin sebuah langkah ke depan yang matang. Meski aku hanya seorang tukang cuci, aku sekarang mulai menatap masa depanku, yang penting ke dua adiku bisa bersekolah” seru Revie dengan tatapan mata yang berbinar ke Ardie.
“Syukurlah, Revie !, itulah yang aku harapkan, kamu bisa bangkit dengan kondisi apapun sama seperti aku, yang hanya tukang las “
“Ardie, kamu punya acara sore ini ?”
“Nggak, ada apa !”
“Kita jalan jalan ke mana aja, mumpung langit cerah. Kita lupakan derita yang kita alami, yang penting sore ini  kita happy “
“OK, aku setuju bangget. Nanti jangan lupa kita ke Istana Bakso, biar aku yang traktir !”
“Mari kita came on “
“Yoi...!!!!”
Kedua remaja itupun menembus keramaian kota, untuk melabuhkan hatinya masing masing. Karena asmara bukan hanya milik para juragan atau kalangan the have saja, tetapi mereka berdua yang mulai bangkit dari keterpurukan juga berhak untuk memiliki. Kabut hitam yang selama bertahun tahun menaungi hidup Revie, kini mulai memucat dan berganti warna biru ***